Bagaimana Menentukan PROSENTASI SAHAM atau BAGI HASIL?

Itulah salah satu pertanyaan yang paling sering muncul.
Jawaban singkatnya: Tak ada patokan pasti..!
Sebelumnya saya sudah share “8 Nilai Berpartner dalam Bisnis”. Sebaiknya tidak terburu-buru memberi saham (kepemilikan) kepada seseorang. Biasanya pemberian saham dilakukan karena ingin mengikat seseorang yang potensial sebagai partner. Namun ada pilihan lain yaitu memberikan BAGI HASIL (Profit Sharing) terlebih dahulu, sebelum masuk ke kepemilikan (Saham).
Misalnya Anda membuka resto, kemudian ingin mengikat kokinya. Gunakan sistim bagi hasil, bukan saham. Apa bedanya? Bagi Hasil tak mengikat kepemilikan. Dia mendapat bagi hasil hanya saat bekerja disitu saja. Jika Anda tidak cocok atau si koki keluar, maka otomatis perjanjian bagi hasil tak dilanjutkan lagi. Beda dengan saham, sekali tanda tangan di akte notaris, maka dia adalah pemilik. Meski tak bekerja lagi, tetap jadi pemilik. Jika ia meninggal, maka menjadi milik ahli warisnya.
Meski demikian, ada pasal-pasal yang bisa mengecilkan (delusi) kepemilikan saham, saat terjadi penambahan modal sepihak. Baca lebih lanjut

8 Nilai Berpartner dalam Bisnis

Kenapa harus berpartner atau bermitra?
Kenapa tidak ambil sebagai karyawan saja? Itulah pertanyaan mendasarnya..
Berpartner dalam artian membagi saham (kepemilikan) seperti menikah dengan seseorang. Mereka hadir dalam kehidupan kita.
Jika tak cocok, tak bisa begitu saja dipecat, karena ada kepemilikan saham yang harus kita beli balik. Itu pun kalo dia mau.
Meski Anda memberi saham kosong (tanpa bayar), jika sudah masuk di akte notaris pendirian perusahaan, artinya sah sebagai pemilik.
Banyak bisnis yang bagus, namun gagal bertumbuh karena ada 2 (atau lebih) Jendral dalam 1 peperangan.
Atau berpartner dengan orang yang tidak kompeten atau komplimen (melengkapi) skill Anda. Hanya sekadar karena gak enak atau keceplos.
Parahnya kesepakatan bagi saham adalah RATA, tapi saat kerja TAK RATA. Ribut lagi..
Karena merasa tak mendapat KEADILAN, semangat mengembangkan bisnis pun pudar, tutup kemudian.. Buka sendiri-sendiri..
Atau.. berujung di pengadilan, baik perdata atau dicari-cari pidananya. Dulu kawan, sekarang lawan. True story.. Baca lebih lanjut

The Power of Ngeyel (2)

Saya pernah berbisnis dengan Mas Ippho Santosa, “Flag Donut” namanya, sekitar tahun 2005.

Lokasi adalah kunci kesuksesan bisnis retail. Dari semua mal di Batam, ada 1 tempat yang paling kami anggap terbaik untuk outlet pertama kami.

Kemudian kami mendatangi mal tersebut, karena pengurusnya sibuk, kami hanya bicara via telepon, Pak Agus namanya.

Kami : Pagi Pak, kita mau buka konter donut yang punya konsep dijamin berbeda dengan yang lain. Dan kami yakin akan menjadi daya tarik buat mal Bapak juga. Bisa kami minta tempat yang strategis? Baca lebih lanjut

The Power of Ngeyel (1)

Beberapa hari setelah masuk kuliah di Surabaya, saya ‘diusir’ oleh pengelola kontrakan. Alasannya karena saya bukan mahasiswa ITS (kakak saya, mahasiswa ITS yang mencarikan sebelumnya). Saya diberi waktu 3 hari untuk mencari kosan baru.

Hari Pertama…

Saya berkeliling dari pagi hingga jam 11 malam, jalan kaki mencari kosan, ketemulah 1 rumah kos strategis idaman saya. Namun sayangnya rumah kos tersebut sudah penuh. Saya berpesan, “Om, kalau ada yang kosong, tolong ya Om, buat saya..”

Hari Kedua… Baca lebih lanjut

Terjebak Teori Bisnis yang Membangkrutkan

Kalo mendengar seorang pengusaha pemula ngeyel menjaga ‘prestise’ branding-nya sedangkan modalnya pas-pasan, jadi teringat kisah kebangkrutan saat membuka rumah makan di tahun 2002-2003.

Saya tak akan cerita tentang rumah makan saya, karena lengkap ada di buku Kitab AntiBangkrut.

Kenapa pengusaha yang berhasil justru kebanyakan yang ‘biasa-biasa’ saja ilmu bisnisnya? Sedangkan para ex-profesional perusahaan besar atau akademisi banyak yang gagal dalam bisnisnya? Baca lebih lanjut

Lunturnya Nilai

Dunia ini membutuhkan orang yang ‘peduli’ dan mau ‘mengingatkan’ mereka yang melanggar Norma dan Etika.

Sudah terasa pergeseran nilai, karena mendiamkan yang tak semestinya.

Ketulusan juga semakin pupus, tergantikan oleh materialisme. Semua diukur dengan uang.

Celakanya banyak orang yang enggan menegur atau memberi sanksi, karena tak mau repot atau dimusuhi.

Saya teringat almarhum ayah saya, saat menegur seorang pelayan resto yang berbuat sesuatu yang tak pantas, sebelum meninggalkan resto. Baca lebih lanjut